Meghan Markle Merasa Pekerjaannya di Politik Lebih Penting dari Akting

VIVA   –  Meghan Markle nampaknya masih memiliki semangat yang kuat untuk langgeng berkarier di dunia politik. Walaupun sudah mundur dari anggota superior Kerajaan Inggris bersama suaminya, Pangeran Harry, namun Meghan yakin sedang memiliki misi yang mulia memakai suaranya.

Ia mau mengakhiri rasisme yang sistemik dalam Amerika serikat dan ingin supaya suaranya didengar.

“Meghan mengatakan pekerjaannya sebagai pemimpin lebih penting dari apapun saat itu dan dia sudah berbicara dengan Oprah dan komunitas pemimpin yang lain tentang bagaimana dia bisa menjelma bagian dari solusi. Meghan merasa misinya lebih dari sekadar berakting. Dia mengatakan ingin menggunakan suaranya untuk perubahan dan belum mengungsikan karier di politik, ” perkataan seorang sumber kepada Daily Mail.

Baca pula:   Diintai saat Main dengan Anaknya, Pangeran Harry Melapor Polisi

Sementara tersebut, Duchess of Sussex itu melegalkan ada yang salah jika tidak mengeluarkan suara terkait kematian George Floyd.

Menyinggung kematian orang-orang kulit hitam di lengah polisi, Meghan membuat pesan di dalam sebuah video yang ditujukan pada angkatan yang baru saja lolos dari sekolahnya di Los Angeles, Immaculate Heart High.

“Apa yang terjadi di negara kita dan negeri bagian kita dan di wilayah halaman kita LA sangat membuat hancur. Aku tidak yakin barang apa yang bisa aku katakan kepada kalian. Aku ingin mengatakan kejadian yang benar dan aku sangat gugup itu bisa dipisah. Saya menyadari satu-satunya yang salah untuk dikatakan adalah tidak mengatakan apapun karena hidup George Floyd bernilai dan hidup Breonna Taylor berharga dan hidup Philando Castile bernilai dan hidup Tamir Rice berharga… dan begitu juga dengan beberapa orang lainnya yang nama-namanya kita tahu dan tidak kita ketahui, ” ujarnya dalam video.

Ibu dari putra yang berumur 13 bulan, Archie, juga menodong maaf kepada para pelajar sebab harus tumbuh di dunia pada mana rasisme masih terjadi serta mengingat beberapa nasihat yang sudah diterimanya saat remaja.

“Aku berpikir mengenai saat tersebut saat aku masih siswa level dua, aku masih 15 tahun… itu adalah tahun kami mengabulkan pekerjaan sukarela. Dan aku peduli satu guru, Nona Pollia, mengatakan kepadaku, ‘Selalu ingat untuk membawa orang lain di atas ketakutanmu. ‘ Nasihat itu terus menempel sepanjang hidupku dan aku memikirkannya lebih banyak lagi seminggu kemarin dari sebelumnya. Jadi hal mula-mula yang ingin aku katakan pada kalian adalah aku minta maaf. Aku minta maaf kalian harus tumbuh di dunia di mana ini masih ada, ” lanjutnya.