Itu 5 Perbedaan Miracle In Cell No. 7 Versi Indonesia

VIVA   –  Miracle In Cell No. 7 versi Indonesia telah selesai melakukan proses penerapan. Hanung Bramantyo duduk di kursi sutradara. Sebagai sutradara, Hanung awalnya ingin buat pembeda. Untungnya, bagian rumah produksi, HB Naveen & Frederica selaku produser menjaga Hanung agar tidak keluar jalur sungguh-sungguh jauh.

“Keterlibatan Bu Erika dan Pak Naveen betul penting, karena sutradara mau tampil beda, ini tetap beda namun tetap dalam satu koridor, ” ujar Hanung.

Hanung tidak menjiplak keseluruhan dari Miracle In Cell No. 7 versi Korea Selatan. Ada pembeda yang mendahulukan film ini berada di Indonesia, Berikut pembeda Miracle In Cell No. 7 versi Indonesia yang tahu disampaikan oleh Hanung.

1. Kondisi
Jika anda sudah menyaksikan Miracle In Cell No. 7 versi Korea Selatan maka benar dipahami, iklim dalam film tersebut menjadi kunci dari alur cerita. Sayangnya, iklim Korea dengan Indonesia berbeda. Hanung tidak mau mengeklaim hal ini. Maka ia mengganti jalan cerita yang terkait denga iklim tersebut.  

“Yang bisa kita lakukan bertambah kepada antropologi, budaya dan kondisi yang ada di Indonesia lain dengan Korea. Di Korea kondisi mempengaruhi sekali, ” ujarnya.

2. Sistem Hukum
Hanung tidak mengadaptasi sistem hukum yang berlaku di Korea Selatan untuk Miracle In Cell No. tujuh versi Indonesia. Namun, Hanung juga tidak akan memakai sistem peradilan yang ada di Indonesia. Hanung menciptakan dunia & tatanan hukumnya sendiri dalam film tersebut.

“Kita hilangkan atribut. Enggak suka menampilkan ini negara Indonesia, secara hukum ini, presiden ini. Negara sendiri, kota sendiri, bahkan tanda penjara beda sendiri, ” ujarnya.

Hanung melakukan kejadian tersebut karena belajar dari pengalaman sebelumnya. Ia menghindari ada bagian yang tersinggung jika menggunakan dengan utuh sistem hukum atau apapun itu yang ada di Tanah Air.

3. Profesi Tokoh Utama
Dalam Miracle in Cell No. 7 , prifesi Lee Young Gu digambarkan sebagai juru parkir. Dalam Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia, ayah sang anak diperankan Vino Bastian dengan nama karakter Dodo Rojak. Vino tidak menjelma sebagai juru parkir melainkan tukang globe.

“Saya berperan jadi Dodo Rojak, tukan Balon dan memiliki disabilitas. Saya sudah nonton film versi Korea sudah periode, ” ujar Vino.

Baca juga:   Cerita Hanung Bramantyo ‘Penjarakan’ Pemain Miracle In Cell No. 7?

4. Latar Tempat
Dalam lupa satu foto yang dirilis oleh Falcon Pictures terlihat ruang Bintang dan Dodo Rojak, dua tokoh utama dalam Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia. Mereka tumbuh di lingkungan padat penduduk & rumah yang hampir menempel secara jalur kereta api.

“Temanya keluarga ekonomi menengah ke bawah, kereta itu kan oleh sebab itu alat transportasi, tapi enggak mampu naik tapi berdekatan dengan wadah itu, ” ujar Hanung.

Dalam foto lainnya, tampak Kartika dan Dodo Rojak berinteraksi dengan pompa manual di depan mereka. Vino memuji setiap opsi syuting mereka. Menurut Vino, gambar-gambar tersebut cukup mewakilkan bagaimana peristiwa Kartika dan Dodo Rojak.

5. Adegan Kelakuan
Selain nama-nama pada atas, film ini juga dibintangi oleh Bryan Domani, Mawar De Jongh, Graciella Abigail, Indro Warkop, Tora Sudiro, Deni Sumargo, Rigen dan Indra Jegel. Vino mengutarakan, akan ada salah satu adegan yang mengharuskan beberapa pemain melakukan adegan laga atau aksi.

Ada adegan action-nya, Mas Hanung yang create, ” ucap Vino.